Desa Bukan Buku Kas, Ia Ruang Masa Depan
Desa Bukan Buku Kas, Ia Ruang Masa Depan
===================================
"Banyak desa sibuk menghitung anggaran, tapi lupa menghitung kemungkinan."
Desa adalah harapan—tetapi harapan hanya hidup jika ia dipimpin dengan pikiran, bukan sekadar diurus dengan angka. Selama ini, terlalu banyak desa terjebak pada rutinitas administrasi: menyerap anggaran, menyelesaikan proyek, lalu merasa tugas selesai. Padahal kepemimpinan desa seharusnya bekerja lebih jauh dari itu: membaca potensi, menafsirkan kebutuhan, dan merancang masa depan. Tanpa gagasan, anggaran hanya menjadi lalu lintas uang, bukan jalan perubahan.
Kita sering mengira masa depan desa lahir dari proyek fisik: bangunan baru, jalan yang diaspal, papan nama yang diganti. Namun sejarah selalu membuktikan sebaliknya. Masa depan lahir dari keberanian—keberanian keluar dari pola lama, keberanian mengelola potensi lokal, dan keberanian mengambil risiko berpikir berbeda. Desa yang hidup bukan desa yang paling besar anggarannya, melainkan yang paling cerdas memanfaatkan apa yang ia miliki.
Di titik inilah kepemimpinan diuji. Ketika dana menyusut, desa yang selama ini bergantung pada proyek akan limbung. Sebaliknya, desa yang dibangun dengan visi akan tetap berdiri. Karena potensi tidak mengenal pemotongan anggaran, dan keberanian tidak tercantum dalam tabel keuangan. Desa yang dipimpin dengan pikiran akan selalu menemukan jalan—bahkan ketika jalannya belum digambar di dalam rencana kerja.**
Penulis: Hamadin Moh.Nurung
Komentar
Posting Komentar